ciri-ciri wanita penghuni surga dan penghuni neraka


Ciri-ciri wanita penghuni surga adalah:

1. Wanita yg selalu menjalankan perintah ALLAH SWT dan wanita yang selalu mentaati segala perintah suaminya.
2. Wanita yg bisa menjaga kehormatan keluarganya dan bisa menutupi aib suaminya serta bisa menjaga kehormatannya bila suaminya sedang bepergian.
3. Wanita yg amanah,qona’ah dan yg sabar menghadapi keluarga atau suaminya.
4. Wanita yg tidak pernah menyakiti hati suaminya.

Sedang ciri-ciri wanita penghuni neraka yaitu:

1. Wanita yg selalu menyakiti hati suaminya dan tidak bisa menjaga auratnya.
2. Wanita yg tidak bisa menjaga kehormatannya apabila suaminya bepergian.
3. Wanita yg selalu menentang perintah suaminya.
4. Wanita yg kerjaannya selalu makan,tidur dan bermalas-malasan saja.

Apabila diantara wanita ada yang memiliki ciri-ciri seperti itu,maka wanita itu kelak akan menjadi penghuni neraka.
Sayyidina Ali Karomah Allahu Wajha berkata : Pada suatu hari ia dan istrinya (Siti Fatimah Azzahra) bertamu kerumah Baginda Rasulullah dan pada saat itu beliau nampak menangis hingga tersedu-sedu,lalu Sayyidina Ali bertanya :”Ya Rasul,ada apa gerangan hingga engkau menangis sedemikian sedihnya,lalu Rasulullah berkata :”Ya Sayyidina Ali ,pada saat aku di Isra’kan kelangit,aku melihat banyak para wanita dari umatku disiksa dengan berbagai macam siksaan,pertama aku melihat seorang wanita yg digantung dengan rambutnya lalu disiram dengan timah panas,itu disebabkan karena wanita itu tidak bisa menjaga auratnya..

Sedang ciri-ciri wanita penghuni syurga menurut Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah dalam kitabnya yg bernama Majmu’ Fatawa adalah :
1. Bertakwa
2. Beriman kepada ALLAH,malaikat-malaikat-Nya,kitab-kitab-Nya,rasul-rasul-Nya,dan beriman kepada takdir yg baik dan yg buruk
3. Bersaksi bahwa tiada tuhan yg berhak disembah kecuali ALLAH,bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-NYA,mendirikan sholat,menunaikan zakat,berpuasa dibulan ramadhan,dan berhaji bagi yg mampu
4. Ihsan
5. Ikhlas
6. Gemar membaca Al-Quran
7. Menghidupkan amar ma’ruf nahi mungkar
8. Berinfaq/bersadaqoh
9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yg memutuskannya dan pemaaf
10. Bersikap adil
11. Menjaga lisannya dari perkataan dusta
12. Amanah dan menepati janji
13. Berbakti kepada orang tua
14. Menyambung tali silaturahmi dengan karib kerabatnya,sahabat terdekat dan terjauh

“……dan barang siapa taat kepada ALLAH dan Rasul-Nya,niscaya ALLAH memasukkannya kedalam surga yg mengalir didalamnya sungai-sungai,sedang mereka kekal didalamnya dan itulah kemenangan yg besar (An-Nisa : 13)

–Wallahu A’lam Bisshawab–
 —

77 cabang iman

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan 'La ilaha illallah' (tauhid), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang iman." [HR. Bukhari, Muslim]

Menurut Imam Al-Baihaqi cabang iman itu ada 77,yang diamtaranya :
1. Iman kepada Allah Azza wa Jalla
2. Iman kepada para rasul Allah seluruhnya
3. Iman kepada para malaikat
4. Iman kepada Al-Qur’an dan segenap kitab suci yang telah diturunkan sebelumnya
5. Iman bahwa qadar – yang baik ataupun yang buruk – adalah berasal dari Allah
6. Iman kepada Hari Akhir
7. Iman kepada Hari Berbangkit sesudah mati
8. Iman kepada Hari Dikumpulkannya Manusia sesudah mereka dibangkitkan dari kubur
9. Iman bahwa tempat kembalinya mukmin adalah Surga, dan bahwa tempat kembali orang kafir adalah Neraka
10. Iman kepada wajibnya mencintai Allah
11. Iman kepada wajibnya takut kepada Allah
12. Iman kepada wajibnya berharap kepada Allah
13. Iman kepada wajibnya tawakkal kepada Allah
14. Iman kepada wajibnya mencintai Nabi saw
15. Iman kepada wajibnya mengagungkan dan memuliakan Nabi saw
16. Cinta kepada din, sehingga ia lebih suka terbebas dari Neraka daripada kafir
17. Menuntut ilmu, yakni ilmu syar’i
18. Menyebarkan ilmu, berdasarkan firman Allah : “Agar engkau menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya”
19. Mengagungkan Al-Qur’an, dengan cara mempelajari dan mengajarkannya, menjaga hukum-hukumnya, mengetahui halal haramnya, memuliakan para ahli dan huffazh-nya, serta takut pada ancaman-ancamannya
20. Thaharah
21. Sholat lima waktu
22. Zakat
23. Puasa
24. I’tikaf
25. Haji
26. Jihad
27. Menyusun kekuatan fii sabilillah
28. Tegar di hadapan musuh, tidak lari dari medan peperangan
29. Menunaikan khumus
30. Membebaskan budak dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah
31. Menunaikan kaffarat wajib : kaffarat pembunuhan, kaffarat zhihar, kaffarat sumpah, kaffarat bersetubuh di bulan Ramadhan ; demikian pula fidyah
32. Menepati akad
33. Mensyukuri nikmat Allah
34. Menjaga lisan
35. Menunaikan amanah
36. Tidak melakukan pembunuhan dan kejahatan terhadap jiwa manusia
37. Menjaga kemaluan dan kehormatan diri
38. Menjaga diri dari mengambil harta orang lain secara bathil
39. Menjauhi makanan dan minuman yang haram, serta bersikap wara’ dalam masalah tersebut
40. Menjauhi pakaian, perhiasan, dan perabotan yang diharamkan oleh Allah
41. Menjauhi permainan dan hal-hal sia-sia yang bertentangan dengan syariat Islam
42. Sederhana dalam penghidupan (nafkah) dan menjauhi harta yang tidak halal
43. Tidak benci, iri, dan dengki
44. Tidak menyakiti atau mengganggu manusia
45. Ikhlas dalam beramal karena Allah semata, dan tidak riya’
46. Senang dan bahagia dengan kebaikan, sedih dan menyesal dengan keburukan
47. Segera bertaubat ketika berbuat dosa
48. Berkurban : hadyu, idul adh-ha, aqiqah
49. Menaati ulul amri
50. Berpegang teguh pada jamaah
51. Menghukumi diantara manusia dengan adil
52. Amar ma’ruf nahi munkar
53. Tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa
54. Malu
55. Berbakti kepada kedua orang tua
56. Menyambung kekerabatan (silaturrahim)
57. Berakhlaq mulia
58. Berlaku ihsan kepada para budak
59. Budak yang menunaikan kewajibannya terhadap majikannya
60. Menunaikan kewajiban terhadap anak dan isteri
61. Mendekatkan diri kepada ahli din, mencintai mereka, dan menyebarkan salam diantara mereka
62. Menjawab salam
63. Mengunjungi orang yang sakit
64. Mensholati mayit yang beragama Islam
65. Mendoakan orang yang bersin
66. Menjauhkan diri dari orang-orang kafir dan para pembuat kerusakan, serta bersikap tegas terhadap mereka
67. Memuliakan tetangga
68. Memuliakan tamu
69. Menutupi kesalahan (dosa) orang lain
70. Sabar terhadap musibah ataupun kelezatan dan kesenangan
71. Zuhud dan tidak panjang angan-angan
72. Ghirah dan Kelemahlembutan
73. Berpaling dari perkara yang sia-sia
74. Berbuat yang terbaik
75. Menyayangi yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua
76. Mendamaikan yang bersengketa
77. Mencintai sesuatu untuk saudaranya sebagaimana ia juga mencintainya untuk dirinya sendiri, dan membenci sesuatu untuk saudaranya sebagaimana ia juga membencinya untuk dirinya sendiri

Sahabat…. Apakah kesemua poin tersebut sudah ada dalam diri kita atau sudahkah kita berikhtiar mengamalkan?

Terimakasih Yaa Allah aku futur


Al-imaanu yazidu wa yanqush.
Kata-kata inilah yang melekat dalam hati kami, bahwasanya iman itu bisa naik dan turun.
“Yazidu bith tho’at, yanqushu bil ma’shiyat.”
Dipertegas dengan uraian berikutnya, bahwa naiknya iman itu merupakan indikasi adanya ketaatan yang kita lakukan, diterima oleh Allah. Sebaliknya, ketika iman kita turun, berarti ada maksiat yang kita kerjakan, diterima (dihitung sebagai dosa) oleh Allah.
Di kalangan anak muda zaman sekarang marak istilah galau. Kalau di kalangan aktivis dakwah, namanya jadi futur. Menurut saya keduanya sama saja. Galau maupun futur adalah indikasi turunnya iman kita kepada Allah. Karena bagi orang beriman tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan mereka tidak pula bersedih hati.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Al-Baqarah[2]:62)
Kekhawatiran dan kesedihan merupakan ciri-ciri futur dan galau. Barangkali ada sebagian kawan-kawan kita yang mengalaminya sekarang.
Lantas, apa yang harus kita lakukan ketika futur menghampiri?
Yang pertama kali kita lakukan adalah bersyukur atas futur yang telah dikaruniakan kepada diri kita. Itu tandanya Allah masih memberikan kita nikmat perasaan berdosa, karena Dia masih sayang kepada kita. Andai Allah tidak memberikan nikmat ini, niscaya kita akan menjadi seperti Fir’aun yang kufur dan menganggap dirinya adalah Tuhan.
“Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS An-Nuur[24]:21)
Pada suatu waktu kita bisa begitu aktif berdakwah, mengisi taujih di sana sini, intensitas syuromeningkat, serasa kita sudah benar-benar memikirkan nasib umat. Tanpa sadar kita pun memuji kebaikan diri kita sendiri, “Hmm.. Aku sudah berjuang keras untuk umat ini.”
Itu adalah masa-masa kedigdayaan kita sebagai seorang aktivis dakwah. Mencicipi nikmat berdakwah juga merupakan karunia Allah. Jadi maklum kalau aktivis dakwah merasa bahagia dengan capaiannya.
Ketika perasaan itu membumbung terlalu tinggi, Allah pun memberikan kita futur atau galau. Tujuannya apa? Agar kita tidak terlena dengan kebaikan kita. Karena itu, salah seorang salaf mengatakan:
“Berapa banyak maksiat yang memasukkanmu ke dalam syurga, dan berapa banyak amal ketaatan yang memasukkanmu ke dalam neraka.”
Maksudnya, sebagian perbuatan maksiat membuat pelakunya menjadi orang yang hina dina, hancur hatinya, tunduk, dan penuh penyesalan, gundah gulana dan sedih, menangis dan mengiba, beristighfar dan beramal shalih. Sehingga, penyesalan dan taubatnya itu menjadi sebab yang menjadikan dia masuk syurga.
Dengan adanya futur, berarti Allah masih memberikan kita sinyal, bahwa di hati kita ada ketidakberesan. Sehingga ketika sinyal kita tangkap, nurani kita segera mendorong diri kita untuk melakukan ishlahun-nafs atau perbaikan diri.
Dalam neurologi dikenal adanya reseptor dan efektor. Sebagai contoh ketika kita asyik berjalan tanpa alas kaki, telapak kaki kita tertusuk duri, reseptor akan mengirim sinyal ke sistem saraf pusat untuk memberitahu bahwa ada duri yang menancap di telapak kaki. Setelah itu sistem saraf pusat mengirimkan sinyal ke efektor, agar membuat rasa sakit pada daerah yang tertusuk duri. Dengan respon sakit itu kita bisa tahu kalau ada ketidakberesan di kaki kita, sehingga kita bisa melakukan tindakan ‘penyelamatan’ seperti berhenti sejenak untuk mencabut duri tersebut.
Bayangkan jika tidak ada sinyal yang dikirim, duri itu tetap akan menancap di kaki kita tanpa kita ketahui. Ia akan terus bercokol di sana, tanpa ada yang mengusiknya. Lama-kelamaan duri itu masuk ke dalam daging dan membuat kaki kita infeksi, bahkan lebih parah lagi.
Begitu pun dengan jiwa kita. Andai Allah tidak memberi kita sinyal bahwa hati kita sedang tidak beres, niscaya kita menjadi sombong. Awalnya muncul dengan wujud narsis, semakin lama berubah ‘ujub, lalu menjadi ‘ujub kronis, lantas berubah sombong. Dan apa ganjaran yang pas untuk orang sombong?
“(Dikatakan kepada mereka), ‘Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka Itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong’.” (QS Al-Mu’min [40]:76)
Na’udzubillahi min dzalik.
Untuk itulah, ketika kita dilanda futur, hal yang pertama kita lakukan adalah bersyukur. Karena kita sudah dihindarkan Allah dari sifat sombong.
Lantas, sudah siapkah kita berkata, “Terima kasih yaa Allah, aku futur.”

Self confidence be a moslem


Islam agamaku. Satu-satunya jalan menuju surganya ilahi. Agama yang sempurna. Isinya tidak hanya mengajarkan untuk beribadah kepada Allah, namun juga mengajarkan banyak sekali tingkah laku dan tata krama yang baik. Keseimbangan Habluminallah (Cinta kepada Allah) dan Habluminannas (Cinta kepada sesama). Berbanggalah engaku wahai orang-orang yang beriman.

Yang pertama, Islam itu adalah kebenaran

“Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu” (Q.S Al-Baqarah:147)

Kebenaran yang hakiki hanya milik Allah.

Yang kedua, Islam itu adalah Sumber kebahagiaan

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram yang mengingat Allah. 
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram” (Q.S Ar-Rad:28)

Senang bukan berarti bahagia,  tapi bahagia sudah pasti senang. Kehidupan dunia mungkin membuat kita senang, tapi bukan bahagia. Karena kebahagiaan hanya bisa kita dapat jika kita dekat dengan Allah. Hanya dengan berdzikir atau mengingat Allah kita bisa bahagia, hati kita bisa tentram dan nyaman. Wahai dirimu yang sedang gundah hatinya coba deh mencurahkan perasaan kepada Sang Khalik, i have tried this dan sungguh hatiku merasa nyaman sekali, lebih nyaman daripada memakan coklat yang menurut penelitian bisa membuat perasaan menjadi bahagia. I Love Allah so much

Yang ketiga adalah Islam itu kesejahteraan

“Dan sekiranya penduduk negri beriman dan bertakwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi....”(Q.S Al-Araf:96)

Sudah jelas disebutkan bahwa islam akan membuat kita sejahtera.  Islam mengajarkan untuk berbagi. Oo indahnya agama ini

Yang ke empat adalah islam itu keselamatan

“Dengan kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap-gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan ke jalan yang lurus.” (Q.S Al-Maidah:16)

Maka dari itu berbanggalah engkau wahai orang-orang yang beriman. Orang-orang yang dekat dengan Allah harus percaya diri, percaya diri dalam melakukan kebaikan di jalan Allah. Semangat dalam menjalani hidup yang penuh dengan ujian dan rintangan, karena Allah sayang kepada orang-orang yang sayang pada-Nya.
Wallahualam bisowab
Uhibbukumfillah insyaAllah


    Demi Masa

    Follow me

    Silahkan Komentar di sini